banner

Senin, 25 Oktober 2021

Tekan Perceraian dan Perkawinan Anak di Sumenep, Begini Caranya..

Oktober 25, 2021

Sumenep - Angka perceraian dan perkawinan anak di Kabupaten Sumenep disebut-sebut menduduki angka yang cukup mengkhawatirkan. Untuk perkawinan anak saja, menduduki peringkat pertama di antara empat kabupaten se-Madura. 


Hal ini disampaikan oleh Dr. Tatik Hidayati dalam Workshop "Resiliensi Sataretanan dalam Mencegah Perceraian dan Perkawinan Anak di Kabupaten Sumenep" pada Selasa (26/10) bertempat di Hotel C1 Sumenep. Tatik menyampaikan kekhawatiran bila ini tidak menjadi perhatian bersama. Dari hasil penelitiannya saja pada tahun 2017 Sumenep menduduki peringkat pertama untuk perkawinan anak.


"Selama pandemic perkawinan anak di Sumenep sepertinya meningkat. Ini butuh perhatian kita semua. Keluarga atau Sataretanan dianggap mampu meminimalisir angka perceraian dan perkawinan anak," ungkap Tatik. 


Dosen Pascasarjana INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep ini menjelaskan bahwa mayoritas pernikahan anak disebabkan oleh budaya dan MBA (marriage by accident) atau pernikahan karena suatu "kecelakaan".


"Akibat dari pernikahan usia dini, ada hak pendidikan yang terenggut dan reprodeksi belum siap serta mental yang belum siap akibat ketidaksiapan," ungkap Tatik. 


Lebih lanjut Tatik menjelaskan bahwa pernikahan usia dini akan menciptakan lingkaran kemiskinan meningkat. Sementara regulai dengan perlindungan anak di Kabupaten Sumenep belum nampak. 


Sementara itu, Kasubaq TU Puslitbang Bimas Agama Kemenag RI, Rizki Riayadu Topek, S.Th.I., MA, menjelaskan bahwa kegiatan workshop semacam ini dapat menjadi ketuk tular untuk masyarakat lainnya. Demi terwujudnya bia rumah tangga sakinan mawadah wa rahmah perlu peran serta seluruh elemen masyarakat khususnya pemangku kebijakan dan tokoh masyarakat. Dengan bergandeng tangan angka perceraian dan perkawinan anak di Sumenep dapat diminimalisir. 


"Saya berharap apa yang telah diagendakan dapat berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi masyarakat di Kabupaten Sumenep, khususnya kalangan muda dan perempuan," ungkap Topek. 


Sebagai informasi bahwa kegiatan Workshop dengan tema "Resiliensi Sataretanan dalam Mencegah Perceraian dan Perkawinan Anak di Kabupaten Sumenep" diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Agama RI dan Berkah Santri. Hadir dalam kesempatan tersebut Kiai Hatim Ghazali dari MUI Pusat, Kiai Abdul Wasid dari PCNU Sumenep, dan perwakilan Depag Kabupaten Sumenep. 


Sebagaimana disampaikan Topek bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah turunan dari kegiatan Puslitbang. Sebagaimana terkonfirmasi bahwa Jawa Timur masuk kategori ke-2 angka perceraian dan pernikahan anak cukup tinggi di tingkat nasional. Dan Kabupaten Sumenep menjadi kabupaten masuk kategori high risk. Untuk inilah kegiatan ini dilaksanakan. Dengan terlaksananya kegiatan ini diharapkan muncul ketahanan dalam keluarga dan persaudaraan (sataretanan) sehingga mampu meminimalisir angka perceraian dan perkawinan anak. 

This post have 0 komentar


:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

iqraa.id