banner

Senin, 05 April 2021

Bahtsul Masail MWC NU Kecamatan Kalianget Terlaksana dengan Hikmat

author photo April 05, 2021

 

LBM MWC NU Kecamatan Kalianget eksis mengadakan Bahtsul Masail yang dilaksanakan setiap bulan Minggu pertama. kegiatan ini dilaksanakan bergiliran dari Ranting ke Ranting yang ada di seluruh Kecamatan Kalianget.

Kali ini Bahtsul Masail MWC NU Kecamatan Kalianget diadakan di Ranting NU Desa Kalimo'ok   tepatnya bertempat di Masjid Amanah pada tanggal 4 April 2021. kegiatan ini di hadiri oleh seluruh alim dan ulama yang ada di kecamatan Kalianget. masing-masing Ranting dan Banom mengutus perwakilan sebanyak 4 orang dari jajaran Ro'is syuriah dan 4 orang dari jajaran Tanfidziah. 

acara Bahtsul Masail  kali ini diawali dengan istighosah bersama, yang dipimpin oleh KH. Yusri Salim dan ditutup oleh doa yang dibacakan oleh Kyai Moh Tallip. adapun sambutan di sampaikan oleh KH. Gofur, S.Pd.I, M.Pd. selaku Ketua Tanfidziyah Kecamatan Kalianget. 

Bahtsul Masail juga di hadiri oleh Ketua LBM Ust Syamsi Riyadi, M.Pd. M.Ag dan dipimpin oleh Ust Joyono, S.Pd.I adapun pembahasan yang dibahas dan hasilnya adalah 

Asilah Bahtsul Masail MWC NU Kalianget – April 2021

 

1.    Hajatan Pernikahan

Hajatan pernikahan, khususnya di Kalianget, tidak jarang dilakukan secara besar-besaran dengan mengundang sekian banyak sanak famili, kerabat, tetangga, dan bahkan kenalan yang berasal dari luar Kalianget. Sudah menjadi tradisi jika si A ingin mengadakan hajatan pernikahan maka si B akan memberikan sumbangan sekian, sehingga jika si B juga akan mengadakan hajatan pernikahan si A dirasa perlu membantu dengan sumbangan sebesar atau bahkan lebih besar dibandingkan dengan sumbangan yang diberikan oleh si B kepadanya, atau yang lebih dikenal dengan istilah “tompangan”.

Pertanyaan:      

a.    Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap adat tompangan tersebut?

b.    Jika dianggap hutang, bagaimana hukum memberikan pengembalian tompangan yang lebih besar atau lebih kecil dibanding dengan yang diterima?

Jawaban:

a.    Dalam penjelasan Sayyid Bakr Ad-Dimyathiy, sebagian ulama menkategorikannya sebagai pemberian Cuma-Cuma, sebagian lagi condong pada hutang. Jalan tengah perbedaan pendapat ini adalah dengan cara mengembalikan pada adat kebiasaan masyarakat, jika memang umumnya masyarakat menganggapnya sebgaia hutang maka wajib dilunasi.

Referensi : I’anath At-Thalibin, J III, Hal. 58.

b.    Jika dianggapa hutang, sebagaimana adat masyarakat kalianget, maka harus dibayar sesuai besaran yang diterima, dan disunnahkan mengembalikan dengan besaran/besaran yang lebih baik.

Referensi: Al-Fiqh Al-Islamiy Wa Adillatuh, J V, Hal. 3793-3795

Sail: Ranting NU Kalianget,

2.    Jual beli arisan

Banyak terjadi di masyarakat transaksi jual beli arisan seperti misalnya jika si A mendapat undian arisan dengan nilai 20.000.000, sedangkan si B yang belum mendapat undian dan sedang membutuhkan uang berinisiatif membeli hasil undian si A dengan harga msialnya 5.000.000. adapun undian yang menjadi hak si B di kemudian hari telah berpindah tangan menjadi hak undian si A.

Pertanyaan:

  1. Bolehkah transaksi tersebut menurut pandangan hukum Islam?
  2. Jika tidak boleh, bagaimana solusinya? Mengingat meratanya kebiasaan tersebut di tengah masyarakat.

Jawaban:

1.    Tidak boleh, karena termasuk dalam  kategori transaksi Riba fadhl dan tidak memnuhi syarat:  kontan, langsung serah terima dan senilai/sepadan.

Referensi: Quth Al-Habib Al-Gharib, Hal. 212.

2.    Tidak ada solusi pembenaran transaksi tersebut, mengingat sangat merugikannya transaksi tersebut terhadapa salah satu pihak, meskipun dengan cara dihilah/diakal-akali atau direkayasa,  Sesuai kaidah

كل حيلة يتوصل بها إلى إبطال حق أو إحقاق حق فهي حرام

Sail: Ranting NU Kalimook

3.    Shalat Hadiah

Salah satu tradisi NU di tengah masyarakat misalnya shalat hadiah yang oleh sebagian kalangan di luar NU dibid’ahkan karena tidak ada contoh yang menegaskan dilakukan  oleh Nabi SAW dan para sahabat r.hum. shalat ini biasa dilakukan oleh warga NU di malam pertama ba’da maghrib setelah mayit dikuburkan.

Pertanyaan:

a.    Bagaimana hukum shalat tersebut dalam pandangan syariat Islam?

b.    Jika memang tidak diperbolehkan, bagaimana solusinya ?

Jawaban:

a.    Jika dilaksanakan dengan niat shalat hadiah, maka tidak boleh

Referensi: Tuhfah Al-Muhtaj, J II, Hal. 238 (dalam Muktamar NU ke VI

b.    Shalat hajat atau shalat muthlaq, untuk kemudian pahalanya dihaturkan kepada mayit

Referensi: Al-Fiqh Al-Islamiy Wa Adillatuh, J III, Hal. 2096

 


This post have 0 komentar


:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

iqraa.id