banner

Rabu, 28 April 2021

Ansor Sumenep Peringati Nuzulul Qur'an dan Harlah ke-87, Qumri; Ansor Organisasi Kepemudaan Terbesar di Sumenep, tapi Jangan Jumawa

April 28, 2021
Sumenep - Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sumenep gelar peringatan Nuzulul Qur'an dan Hari Lahir GP Ansor ke-87. Kegiatan ini dilaksanakan di Grha KH. Abdul Wahab Chasbullah Sumenep pada Rabu (28/04) sore. 

Kegiatan menjelang buka puasa ini di awali dengan Khotmil Qur'an 30 Juz dan pengajian Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Pengajian kitab diampu oleh K. Hantok Sudarto. 

Pada pelaksanaan peringatan Harlah Ansor ke-87, Ketua PC GP Ansor Sumenep, Qumri Rahman, menyampaikan pada segenap kader Ansor Sumenep untuk merapikan barisan dan "berlama-lama" duduk seperti dipentik dari kisah KH. As'ad Syamsul Arifin. 

"Ini saya cerita sedikit yang didapat dari Habib Hasyim. Habib Hasyim bercerita bahwa suatu hari Kiai As'ad sangat rindu pada Kiai Hamid Pasuruan. Tanpa dinyana, Kiai Hamid datang ke kediaman Kiai As'ad. Padahal di zaman itu perjalanan Pasuruan ke Situbondo bisa sampai sehari. Apa yan dapat dipetik dari kisah ini bahwa kiai-kiai kita terbiasa memperbanyak bersila, yakni memperbanyak dzikir dan tirakat," ungkap Kiai Qumri. 

Qumri menambahkan bahwa kader Ansor harus memiliki niat membangun organisasi dengan niat karena Allah SWT. Berada di Ansor, menurut Qumri, adalah kebersamaan. Qumri mengajak para kader untuk duduk bersama, membangun bersama, dan bergerak bersama untuk kemajuan Ansor-NU. 

"Diakui banyak kalangan keberadaan GP Ansor Sumenep hari ini adalah organisasi pemuda terbesar di Kabupaten Sumenep yang hari ini tetap eksis dan berkegiatan. Namun demikian, kita sebagai santri tidak boleh jumawa. Walau organisasi kita besar dan sukses kita tidak boleh sombong. Momen Nuzulul Qur'an adalah momen menurunkan ego kita masing-masing, tetapi jangan lupa untuk memasifkan gerakan. Organisasi berada di atas kepentingan diri kita pribadi," ajak Kiai Qumri. 

Sementara itu, KH. RB. Taufiqurrahman Syakoer, sebagai penceramah, mengajak para kader Ansor untuk menjaga tradisi sanad. Momentum Nuzulul Qur'an, diakui Kiai Taufiqurrahman, dapat menjadi pemantik kita semua untuk menjaga tradisi. 

"Berbicara Al-Quran adalah menjaga tradisi sanad.  Al-quran yang kita baca hari ini adalah sama dengan Al-Quran yang dibaca Nabi kita yang mulia, Muhammad SAW," ungkap Kiai Taufiq. 

Lebih lanjut Kiai Taufiq menjelaskan bahwa menjaga kesinambungan sanad syaratnya ada dua, yakni; Attalaqi (bertemu guru) dan musyafahah (mengkroscek bacaan kita pada guru). Bagi orang NU utamanya, sanad berguru ini penting. Menurut amatan Kiai Taufiq bawah ada beberapa orang membaca Al-Quran salah. Setelah ditelusuri ternyata belajar pada You Tube. 

Kesinambungan menjaga riwayat atau sanad ini berhubungan dengan ilmu-ilmu yang lain, seperti ilmu fiqih, ushul fiqih, dan seterusnya. Dengan menjaga sanad keilmuan, lanjut Kiai Taufiq, seseorang dapat mempertanggungjawabkan keilmuannya.

Dalam kesempatan ini juga dilangsungkan pemoongan tumpeng yang dihadiri oleh Dewan Penasehat dan Dewan Instruktur PC GP Ansor Sumenep.  (Ra Dan)

This post have 0 komentar


:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

iqraa.id